Minggu, 16 Agustus 2009

Setelah serangan

Orca terduduk di kursi kayu. Tubuhnya bergetar hebat, garis air mata masih membekas pun matanya yang membengkak dan memerah menegaskan bahwa gadis kecil ini baru saja mengalami hal yang hebat dalam konotasi negatif.

Sang ayah menghampirinya, mengulurkan segelas susu hangat kepadanya. "Ini, minumlah nak. Ini akan membuatmu merasa lebih baik." ujar sang Ayah.
Orca meraih cangkir tersebut dan menyeruput pelan isi di dalamnya. Sang Ayah lalu berdiri dan membalikkan tubuhnya, wajahnya menyiratkan ekspresi seseorang yang sedang susah hati.

"Orca, kau tahu mantera apa yang kau rapalkan tadi kepada Ibumu?" tanyanya kepada sang anak perempuannya itu. Ia kembali mambalikkan tubuhnya ke arah Orca dan dilihatnya Orca menggeleng kepalanya perlahan. "Itu adalah salah satu Kutukan Tak Termaafkan, Orca. Dan seharusnya kau tak tahu perihal mantera itu, bagaimana kau bisa?" cecar Gordon getir.

"Aku melihat Ibu, Ayah. Aku melihatnya merapalkan mantera itu kepada beberapa orang sebelumnya. Para petani yang sering melempari pagar rumah kita dengan kol, wortel dan kentang busuk." jawab Orca seadanya. "Ibu bilang itu hukuman sepadan bagi perlakuan mereka kepada kita." lanjutnya lagi singkat.

Gordon terlihat menghela nafasnya panjang. terlihat garis-garis penyesalan dalam air mukanya.
"Orca, kau telah membunuh Ibumu sendiri dengan mantera itu, kau mengerti itu?" tanya Gordon kembali. Orca menganggukkan kepalanya.
"Dan setiap orang yang menggunakan mantera itu dipastikan akan ke Azkaban, Orca...." lanjut sang Ayah pedih.

Orca lalu membeku, ia menghentikan kegiatan menyeruput susu hangatnya yang hanya tersisa beberapa mili lagi saja. Wajahnya pucat pasi.
"...dan Ayah tak akan membiarkanmu masuk kesana, Orca. Tidak akan!" bilangnya lantang dan menumbuhkan rasa aman bagi Orca. "Ayah akan menukar kebebasanmu dengan kebebasanku. Ayah yang akan ke Azkaban untukmu, Orca." lanjut Gordon tegar.

Orca segera saja melepaskan pegangannya pada cangkir dan berlari menuju sang Ayah.
"Tidak Ayah! Ayah tak boleh pergi, Orca nanti kesepian Ayah! Ayo kita pergi Ayah, pergi jauh dari sini!" erang Orca sambil menangis.
Sang Ayah hanya terdiam, memeluk anak kesayangannya itu dengan erat, dua butir kilauan mengalir keluar dari kedua belah matanya, ia menangis.

"Tidak Orca, maafkan Ayah, Ayah tak bisa melakukan itu. Ayah seorang lelaki sejati, Orca. Ayah akan melindungi keluarga Ayah dengan segenap tenaga. Tenanglah kau tak akan kesepian, Ayah telah mengirim pesan kepada Nenekmu. Ia akan merawatmu nanti. Dan ini, ambillah, tongkat sihir milik Ayah. Ini untukmu, gunakan hanya jika kau berhasil masuk ke Hogwarts, janji?" ujar sang ayah sambil mengulurkan jari kelingkingnya.

Sambil terisak Orca pun mengangkat jari kelingking miliknya dan diakitkannya ke jari kelingking sang Ayah. "Janji." ujarnya pendek.

Lalu Sang Ayah mengambil sebentar tongkat yang sudah diwariskan kepada anak satu-satunya itu.
"Sampai jumpa, Orca." ujarnya sambil mengangkat tongkat sihir lalu merapalkan sebuah mantera, "OBLIVIATE!"

Dan perlahan Orca merasakan pandangannya semakin gelap dan semakin gelap dan semakin gelap sebelum akhirnya matanya terpejam. Sang Ayah mengangkat tubuh mungilnya ke dalam kamar tidur sang anak. Di letakkannya tongkat sihir miliknya di meja yabg berdiri tepat disebelah kanan ranjangnya. Dibelainya lembut rambut sang anak yang mungkin tak dapat ia temui lagi seumur hidupnya. Lalu ia mendengar dentuman langkah kaki masuk. Ia mengerti bahwa orang-orang dari Kementrian Sihir sudah tiba untuk mengadili dirinya.

Gordon pun berdiri dan perlahan berjalan keluar dari kamar Orca sambil berbisik, "Jadilah besar dan kuat, Orca. Jadilah seorang pemberani dan adil. Jadilah seorang yang akan membalaskan dendam ayah dan Ibumu. jadilah seorang yang akan melawan kezaliman para Pelahap Maut."

xxx

Tidak ada komentar:

Posting Komentar