Tangan-tangan mungil itu sedang asyik mengaduk pasir. Begitu terampilnya dimasukkannya pasir kedalam ember kecil dan dipadatkan sebelum dituangkan kembali pasir yang sudah terbentuk menjadi gumpalan. Deangan telaten tangan itu menggunakan sekop dan tangannya yang satu lagi membentuknya menjadi satu bagian dari istana pasir. Orca, gadis yang sedang asyik membuat istana pasirnya di lapangan bermain anak di dekat perumahannya. terjongkok sendiri seakan tak peduli dengan sekitarnya.
Lalu segerombolan anak lelaki nakal perlahan berjalan menuju dirinya. Segereombolan yang terdiri dari tujuh orang anak dengan pemimpinnya yang bermuka angkuh, bertubuh gembul dan memiliki ekspresi tak simpatik. Orca tak menyadari kalau ia sedang dalam bahaya, ia tetap asyik bermain di lapangan pasir.
"Hey kamu!" si gembul itu tiba-tiba berseru kepada Orca. "Pergi dari situ, itu tempat bermain kami!" lanjutnya lagi. Orca seakan tak mendengar terus saja merangkai istana pasirnya yang sudah hampir sempurna. Si gembul tentu saja merasa gusar karena diacuhkan, dan ia memerintahan dua orang anak yang menjadi pengikutnya untuk mengacaukan istana pasir yang telah susah payah dibuat oleh Orca.
Gerombolan anak itu tertawa seakan melihat penderitaan orang adalah sesuatu yang patutt ditertawakan. "Hey! Kenapa kalian hancurkan istana pasirku?!!" bentak Orca kesal. "Karena kau bermain di wilayah kami, nona kecil!" ujar si gembul kepadanya.
"Terus kenapa? Ini lapangan bermain untuk umum bukan milik keluargamu!" bentak Orca lagi. Orca sangat kesal sekali dengan perbuatan anak-anak lelaki nakal itu. Dan ia tak merasa takut ataupun segan sama sekali walau mereka terlihat lebih tua darinya. Begitu marahnya sampai-sampai ia tak menyadari bahwa ia melakukan hal yang ajaib, begitu marahnya sampai ia menggerakan ayunan dan jungkat jungkit yang kosong bergerak sendiri secara telekinetis.
Anak-anak lelaki nakal itu tiba-tiba saja merasa ciut melihat semua itu. Kaki mereka gemetar, lalu si gembul berbalik dan mendorong anak pengikutnya dengan kasar dan lari terbirit sambil berseru, "Orang Gila! Ada orang gila!!"
Setelah semuanya menghilang dari pandangan mata, Orca mengangkat kedua tangannya, dilihat dan ditelitinya dengan tatapan heran seakan tangannya adalah sesuatu yang tak pernah dilihatnya. Dan ia berlari pulang.
***
"Nenek, apakah aku orang gila" tanya Orca kepada sang nenek saat mereka duduk di ruang tamu sore harinya, hal yang membuat sang nenek hampir saja menyemburkan earl grey yang baru saja diteguknya.
"Orca sayang, mengapa kau berkata seperti itu?" tanya sang nenek bingung dengan pertanyaan ajaib sang cucu. "Siang tadi saat saya bermain di lapangan, ada segerombolan anak nakal yang menggangguku. beberapa dari mereka menghancurkan istana pasir yang kubuat dengan susah payah, dan saya mersa sangat kesal sekali. Lalu saya dapat menggerakkan beberapa mainan yang sedang kosong dan memmbuat anak nakal itu ketakutan, mereka memangil saya orang gila, Nek."
Sang nenek terpukau dengan ceritanya, lalu ia membenarkan posisi duduknya pun juga letak kaca matanya. Lalu ia berkata kepada Orca, "Dear, itu bukanlah hal yang patut disebut gila. Mereka hanya tak biasa melihat dengan hal seperti itu.... Orca, nenek harus memberitahumu sekarang karena kupikir kau sudah dapat berpikir cukup matang. Kita, keluarga Hills adalah keluarga penyihir. Dan bagi seorang penyihir, adalah hal yang lumrah jika sedang merasa kesal, takut ataupun sedih akan menunjukkan reaksi tertentu pada lingkungan sekitar." bilang sang nenek dengan suara yang menentramkan hati.
"Penyihir? Jadi kita seperti orang-orang di pertujukkan sulap dalam sirkus atau televisi ?" tanya Orca takjub. Sang nenek tentu saja tertawa atas pertanyaanya itu, "Tidak Orca, mereka pesulap bukan penyihir. Well, mungkin beberapa dari mereka tapi tak seluruhynya. Kebanyakan dari pesulap hanya menggunakan trik dan ilusi saja. Sementara penyihir seperti kita dapat menggunakan mantera sihir sesungguhnya untuk berbagai keperluan." bilang sang nenek.
"Kau tentu sering melihat pigura lukisan yang tergantung di rumah ini, lukisan yang dapat bergerak. Ataupun peralatan rumah tangga, seperti sapu yang dapat bergerak sendiri dan sebagainya bukan, Orca?" tanya sang nenek kepanya cucunya itu. Orca menganggukan kepalanya dengan yakin. "Itulah sihir, Orca. Mereka, para muggles tak punya peralatan seperti ini. Mereka harus menggunakan tenaga mereka sendiri untuk menyapu, membersihkan rumah, mencuci piring kotor dan sebagainya." ujar sang nenek lagi.
Orca merasa takjub dan bibir mungilnya membentuk huruf O kecil, ekspresinya sungguh cute. "Lalu, bagaimana saya dapat menggunakan sihir, Nek? Apakah kau dapat mengajariku?" tanya Orca lebih lanjut. "Well, tentu ada sekolah khusus penyihir yang dapat menggajarkan berbagai macam tentang sihir, ada beberapa sekolah sihir ternama di dunia ini. Seperti Hogwarts, Salem, Beauxbaton, Durmstrang..., dan neneka dapat mengajarimu bebrapa mantera ringan untuk perlindungan diri, tapi kau harus berjanji tidak menggunakannya di depan para muggles, janji?" tanya sang nenek. "Janji!" ujar Orca yakin.
Sudah dua tahun berselang sejak kejadian tergelap Orca, yang mungkin sudah tak pernah dapat diingatnya kembali sejak sang Ayah mengobliviate pikirannya. Hidup Orca berjalan cukup normal dengan berbagai kejadian sihir ringan yang membuat dirinya selalu takjub. Orca, kini seorang anak pra remaja berumur 9 tahun. Seorang anak gadis yang sedang tumbuh, wajahnya yang memiliki paras lembut, rambut brunettenya yang indah, sinar matanya yang bercahaya seakan menunjukan semangat hidupnya yang meletup-letup, membentuk dirinya perlahan menjadi seorang anak gadis pra-remaja yang cantik nan aktif. Seorang yang mewarisi keberanian sang ayah dan kecantikan serta ketajaman yang menghipnotis sang bunda.
xxx
The Past, The Present and The Future of Orca Hills
Senin, 17 Agustus 2009
Minggu, 16 Agustus 2009
Setelah serangan
Orca terduduk di kursi kayu. Tubuhnya bergetar hebat, garis air mata masih membekas pun matanya yang membengkak dan memerah menegaskan bahwa gadis kecil ini baru saja mengalami hal yang hebat dalam konotasi negatif.
Sang ayah menghampirinya, mengulurkan segelas susu hangat kepadanya. "Ini, minumlah nak. Ini akan membuatmu merasa lebih baik." ujar sang Ayah.
Orca meraih cangkir tersebut dan menyeruput pelan isi di dalamnya. Sang Ayah lalu berdiri dan membalikkan tubuhnya, wajahnya menyiratkan ekspresi seseorang yang sedang susah hati.
"Orca, kau tahu mantera apa yang kau rapalkan tadi kepada Ibumu?" tanyanya kepada sang anak perempuannya itu. Ia kembali mambalikkan tubuhnya ke arah Orca dan dilihatnya Orca menggeleng kepalanya perlahan. "Itu adalah salah satu Kutukan Tak Termaafkan, Orca. Dan seharusnya kau tak tahu perihal mantera itu, bagaimana kau bisa?" cecar Gordon getir.
"Aku melihat Ibu, Ayah. Aku melihatnya merapalkan mantera itu kepada beberapa orang sebelumnya. Para petani yang sering melempari pagar rumah kita dengan kol, wortel dan kentang busuk." jawab Orca seadanya. "Ibu bilang itu hukuman sepadan bagi perlakuan mereka kepada kita." lanjutnya lagi singkat.
Gordon terlihat menghela nafasnya panjang. terlihat garis-garis penyesalan dalam air mukanya.
"Orca, kau telah membunuh Ibumu sendiri dengan mantera itu, kau mengerti itu?" tanya Gordon kembali. Orca menganggukkan kepalanya.
"Dan setiap orang yang menggunakan mantera itu dipastikan akan ke Azkaban, Orca...." lanjut sang Ayah pedih.
Orca lalu membeku, ia menghentikan kegiatan menyeruput susu hangatnya yang hanya tersisa beberapa mili lagi saja. Wajahnya pucat pasi.
"...dan Ayah tak akan membiarkanmu masuk kesana, Orca. Tidak akan!" bilangnya lantang dan menumbuhkan rasa aman bagi Orca. "Ayah akan menukar kebebasanmu dengan kebebasanku. Ayah yang akan ke Azkaban untukmu, Orca." lanjut Gordon tegar.
Orca segera saja melepaskan pegangannya pada cangkir dan berlari menuju sang Ayah.
"Tidak Ayah! Ayah tak boleh pergi, Orca nanti kesepian Ayah! Ayo kita pergi Ayah, pergi jauh dari sini!" erang Orca sambil menangis.
Sang Ayah hanya terdiam, memeluk anak kesayangannya itu dengan erat, dua butir kilauan mengalir keluar dari kedua belah matanya, ia menangis.
"Tidak Orca, maafkan Ayah, Ayah tak bisa melakukan itu. Ayah seorang lelaki sejati, Orca. Ayah akan melindungi keluarga Ayah dengan segenap tenaga. Tenanglah kau tak akan kesepian, Ayah telah mengirim pesan kepada Nenekmu. Ia akan merawatmu nanti. Dan ini, ambillah, tongkat sihir milik Ayah. Ini untukmu, gunakan hanya jika kau berhasil masuk ke Hogwarts, janji?" ujar sang ayah sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
Sambil terisak Orca pun mengangkat jari kelingking miliknya dan diakitkannya ke jari kelingking sang Ayah. "Janji." ujarnya pendek.
Lalu Sang Ayah mengambil sebentar tongkat yang sudah diwariskan kepada anak satu-satunya itu.
"Sampai jumpa, Orca." ujarnya sambil mengangkat tongkat sihir lalu merapalkan sebuah mantera, "OBLIVIATE!"
Dan perlahan Orca merasakan pandangannya semakin gelap dan semakin gelap dan semakin gelap sebelum akhirnya matanya terpejam. Sang Ayah mengangkat tubuh mungilnya ke dalam kamar tidur sang anak. Di letakkannya tongkat sihir miliknya di meja yabg berdiri tepat disebelah kanan ranjangnya. Dibelainya lembut rambut sang anak yang mungkin tak dapat ia temui lagi seumur hidupnya. Lalu ia mendengar dentuman langkah kaki masuk. Ia mengerti bahwa orang-orang dari Kementrian Sihir sudah tiba untuk mengadili dirinya.
Gordon pun berdiri dan perlahan berjalan keluar dari kamar Orca sambil berbisik, "Jadilah besar dan kuat, Orca. Jadilah seorang pemberani dan adil. Jadilah seorang yang akan membalaskan dendam ayah dan Ibumu. jadilah seorang yang akan melawan kezaliman para Pelahap Maut."
xxx
Sang ayah menghampirinya, mengulurkan segelas susu hangat kepadanya. "Ini, minumlah nak. Ini akan membuatmu merasa lebih baik." ujar sang Ayah.
Orca meraih cangkir tersebut dan menyeruput pelan isi di dalamnya. Sang Ayah lalu berdiri dan membalikkan tubuhnya, wajahnya menyiratkan ekspresi seseorang yang sedang susah hati.
"Orca, kau tahu mantera apa yang kau rapalkan tadi kepada Ibumu?" tanyanya kepada sang anak perempuannya itu. Ia kembali mambalikkan tubuhnya ke arah Orca dan dilihatnya Orca menggeleng kepalanya perlahan. "Itu adalah salah satu Kutukan Tak Termaafkan, Orca. Dan seharusnya kau tak tahu perihal mantera itu, bagaimana kau bisa?" cecar Gordon getir.
"Aku melihat Ibu, Ayah. Aku melihatnya merapalkan mantera itu kepada beberapa orang sebelumnya. Para petani yang sering melempari pagar rumah kita dengan kol, wortel dan kentang busuk." jawab Orca seadanya. "Ibu bilang itu hukuman sepadan bagi perlakuan mereka kepada kita." lanjutnya lagi singkat.
Gordon terlihat menghela nafasnya panjang. terlihat garis-garis penyesalan dalam air mukanya.
"Orca, kau telah membunuh Ibumu sendiri dengan mantera itu, kau mengerti itu?" tanya Gordon kembali. Orca menganggukkan kepalanya.
"Dan setiap orang yang menggunakan mantera itu dipastikan akan ke Azkaban, Orca...." lanjut sang Ayah pedih.
Orca lalu membeku, ia menghentikan kegiatan menyeruput susu hangatnya yang hanya tersisa beberapa mili lagi saja. Wajahnya pucat pasi.
"...dan Ayah tak akan membiarkanmu masuk kesana, Orca. Tidak akan!" bilangnya lantang dan menumbuhkan rasa aman bagi Orca. "Ayah akan menukar kebebasanmu dengan kebebasanku. Ayah yang akan ke Azkaban untukmu, Orca." lanjut Gordon tegar.
Orca segera saja melepaskan pegangannya pada cangkir dan berlari menuju sang Ayah.
"Tidak Ayah! Ayah tak boleh pergi, Orca nanti kesepian Ayah! Ayo kita pergi Ayah, pergi jauh dari sini!" erang Orca sambil menangis.
Sang Ayah hanya terdiam, memeluk anak kesayangannya itu dengan erat, dua butir kilauan mengalir keluar dari kedua belah matanya, ia menangis.
"Tidak Orca, maafkan Ayah, Ayah tak bisa melakukan itu. Ayah seorang lelaki sejati, Orca. Ayah akan melindungi keluarga Ayah dengan segenap tenaga. Tenanglah kau tak akan kesepian, Ayah telah mengirim pesan kepada Nenekmu. Ia akan merawatmu nanti. Dan ini, ambillah, tongkat sihir milik Ayah. Ini untukmu, gunakan hanya jika kau berhasil masuk ke Hogwarts, janji?" ujar sang ayah sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
Sambil terisak Orca pun mengangkat jari kelingking miliknya dan diakitkannya ke jari kelingking sang Ayah. "Janji." ujarnya pendek.
Lalu Sang Ayah mengambil sebentar tongkat yang sudah diwariskan kepada anak satu-satunya itu.
"Sampai jumpa, Orca." ujarnya sambil mengangkat tongkat sihir lalu merapalkan sebuah mantera, "OBLIVIATE!"
Dan perlahan Orca merasakan pandangannya semakin gelap dan semakin gelap dan semakin gelap sebelum akhirnya matanya terpejam. Sang Ayah mengangkat tubuh mungilnya ke dalam kamar tidur sang anak. Di letakkannya tongkat sihir miliknya di meja yabg berdiri tepat disebelah kanan ranjangnya. Dibelainya lembut rambut sang anak yang mungkin tak dapat ia temui lagi seumur hidupnya. Lalu ia mendengar dentuman langkah kaki masuk. Ia mengerti bahwa orang-orang dari Kementrian Sihir sudah tiba untuk mengadili dirinya.
Gordon pun berdiri dan perlahan berjalan keluar dari kamar Orca sambil berbisik, "Jadilah besar dan kuat, Orca. Jadilah seorang pemberani dan adil. Jadilah seorang yang akan membalaskan dendam ayah dan Ibumu. jadilah seorang yang akan melawan kezaliman para Pelahap Maut."
xxx
- Prolouge -
"Katakan dengan jujur siapa lelaki itu!!!" suara lantang kasar menggelegar, menggetarkan seluruh isi rumah. Membangunkan seluruh penghuni rumah itu di tengah malam buta.
Hujan masih terus saja turun, membasahi bumi seakan merasa malu mendengar pertikaian itu dan ingin menutupi suara keributan tersebut. Dan guntur seakan mendukungnya, menyalak bersahut-sahutan membuat siapapun yang mendengarnya menjadi ciut hati.
Wanita itu terduduk di lantai, terpekur, sungai air mata masih saja turn dari kedua matanya yang indah. lelehan air mata yang berwarna kehitaman karena melunturkan maskara yang digunakannya. Sang lelaki di depannya masih saja membentak tak tentu arah, sambil menggengam tongkat sihir miliknya. Suaminya yang menangkap basah dirinya bermain gila dibelakangnya.
"Katakan Ellena! Katakan siapa pria itu!!!" Bentak Gordon seakan ingin meyakinkan perkiraannya atau mungkin berharap pikirannya salah walaau ia sebnearnya apa yang sedang terjadi. Lalu ia mengangkat satu belah tangannya, "Katakan Ellena! Crucio!!!"
Ellena meringkuk, bergetar, berteriak kesakitan. Jeritannya sangat mengiris hati.
"Aaargh! Hentikan! Hentikan Gordon!!!" pinta si wanita. "Jangan biarkan amarah membutakan hatimu, Gordon! Demi Merlin, Hentikan!!!" Pintanya kembali.
"Kenapa Ellena? Kenapa kau tega melakukan ini padaku? Kenapa?!!!" balas sang pria tak kalah keras. "Apa yang kurang dariku? Apa?!" "Lihat mansion ini, apakah kurang mewah untukmu? Lihat pakaianmu, apakah kurang modis buatmu? Lihat sekkelilingmu Ellena, Lihat!!!" "Lihat diriku Ellena! apakah aku kurang mencintaimu? Apa aku kurang memuaskan hasratmu?" "Lihat kamar itu Ellena! Disana terbaring Orca, buah hati kita, hasil cinta kita. Begitu teganyakah kau melukai hatinya? Kenapa Ellena? Kenapa kau melakukan ini? Jelaskan padaku!" Ucap Gordon panjang, air mata mulai meleleh dari matanya.
Sementara Ellena masih terus saja tersenguk sunyi, menundukkan kepalanya, tak berani melayangkan pandangan kepada suaminya yang sedang murka.
Mereka tak tahu, tak menyadari bahwa ada mata lain yang menyaksikan perterngkaran mereka. Para pelayan, Goblin rumah, lukisan-lukisan dan juga... Orca. sambil memegangi dadanya seakan memeras hatinya, menahannya agar tak hancur berkeping.
Orca, gadis kecil berumur 7 tahun yang cantik. Rambutnya blonda sehat bercahaya, terlihat bahwa ia terawat dengan sangat baik. Dunianya penuh warna, warna-warna yang indah khas anak-anak pada umumnya. Warna yang kini luntur sudah setelah melihat pertikaian kedua orang tuanya. Pertikaian yang diintipnya dari celah pintu kamar tidurnya.
"Crucio!!!" suara lantang khas pria dewasa kembali menggelegar. Diiringi jeritan si wanita. tak tahan dengan penyiksaan yang dilihat dan didengarnya, Orca terjongkok, menutup kedua belah telinganya. Hatinya tak henti-hentinya berteriak, "Hentikan! Hentikan!"
Ellena di antara hujan cruciatus yang diterimanya, perlahan memasukkan satu tangannya kedalam jubahnya, mencoba menggapai tongkat sihir miliknya. Ia sudah tak tahan menerima siksaan itu. Setelah berusaha menggapai, akhirnya ia dapat menggengam tongkat miliknya. Dan disaat ia menemukan jeda yang menjadi celah baginya ia pun merapalkan mantera, "Expelliarmus!"
Gordon terpental menabrak meja console dibelakangnya. Tongkat sihirnya terlempar cukup jauh dan jatuh di depan pintu satu kamar.
Masih berdiri terpaku, Ellena berbicara.
"Ya Gordon. Benar, saya bermain di belakangmu. Kenapa tanyamu?" Ucapnya lalu tertawa sesaat sebelum melanjutkan perkataannya. "Karena aku tak pernah mencintaimu, Gordon! Aku menikahimu karena kau punya harta, kuasa dan kasta yang tinggi. Tiga hal yang akan cukup menghindarkanku dari kejaran gerilyawan Pelahap Maut yang mengejarku. Gerombolan yang pernah menjadi teman-temanku." Ujarnya.
"Dan Orca. Dia hanyalah alat belaka! Agar semakin mengikat kau kepada diriku, kau pikir kau siapa Gordon? Heh?!! Kau seorang Gryfinddor! Seorang pengkhianat darah! Dan sebaliknya saya, saya adalah seorang yang superior! Saya seorang Slytherin! Saya berjuang demi darah murni, klan kita, Gordon!" lanjutnya kembali.
"Kini saya telah menemukan seseorang yang akan menjadi tumbalku yang baru, seorang yang jauh lebih kaya dan berkuasa daripada dirimu! Saya tak membutuhkan dirimu lagi, Gordon! Matilah!" Ujarnya.
Lalu Ellena mengangkat tongkat sihirnya, mengayunkannya dan "AVADA KEDAVRA!!!"
Sinar hijau bercahaya dan setelahnya tongkat sihir terjatuh dari genggaman. Suara ketukan friksi dari tongkat dan lantai marble menggema di ruangan itu. Ellena, dengan mata membelalak terjatuh ke lantai tak bernyawa. Lukisan-lukisan yang ada menutup matanya dengan kedua belah tangannya. Gordon terbagun dari posisinya, merapihkan dirinya dan melihat sosok yang bediri dibelakang tubuh kaku istrinya.
"Orca?" ujar Gordon penuh tanya. "Maafkan aku, Ayah. Maafkan aku...." mata Orca menatap sang ayah dengan pandangan nanar. Air matanya turun dengan derasnya. Tubuhnya bergetar hebat.
Malam itu seorang anak telah membunuh Ibunya sendiri. Tindakan yang dilakukannya demi menyelamatkan hidup sang Ayah. Tragedi yang akan merubah masa depan hidupnya kelak.
xxx
Hujan masih terus saja turun, membasahi bumi seakan merasa malu mendengar pertikaian itu dan ingin menutupi suara keributan tersebut. Dan guntur seakan mendukungnya, menyalak bersahut-sahutan membuat siapapun yang mendengarnya menjadi ciut hati.
Wanita itu terduduk di lantai, terpekur, sungai air mata masih saja turn dari kedua matanya yang indah. lelehan air mata yang berwarna kehitaman karena melunturkan maskara yang digunakannya. Sang lelaki di depannya masih saja membentak tak tentu arah, sambil menggengam tongkat sihir miliknya. Suaminya yang menangkap basah dirinya bermain gila dibelakangnya.
"Katakan Ellena! Katakan siapa pria itu!!!" Bentak Gordon seakan ingin meyakinkan perkiraannya atau mungkin berharap pikirannya salah walaau ia sebnearnya apa yang sedang terjadi. Lalu ia mengangkat satu belah tangannya, "Katakan Ellena! Crucio!!!"
Ellena meringkuk, bergetar, berteriak kesakitan. Jeritannya sangat mengiris hati.
"Aaargh! Hentikan! Hentikan Gordon!!!" pinta si wanita. "Jangan biarkan amarah membutakan hatimu, Gordon! Demi Merlin, Hentikan!!!" Pintanya kembali.
"Kenapa Ellena? Kenapa kau tega melakukan ini padaku? Kenapa?!!!" balas sang pria tak kalah keras. "Apa yang kurang dariku? Apa?!" "Lihat mansion ini, apakah kurang mewah untukmu? Lihat pakaianmu, apakah kurang modis buatmu? Lihat sekkelilingmu Ellena, Lihat!!!" "Lihat diriku Ellena! apakah aku kurang mencintaimu? Apa aku kurang memuaskan hasratmu?" "Lihat kamar itu Ellena! Disana terbaring Orca, buah hati kita, hasil cinta kita. Begitu teganyakah kau melukai hatinya? Kenapa Ellena? Kenapa kau melakukan ini? Jelaskan padaku!" Ucap Gordon panjang, air mata mulai meleleh dari matanya.
Sementara Ellena masih terus saja tersenguk sunyi, menundukkan kepalanya, tak berani melayangkan pandangan kepada suaminya yang sedang murka.
Mereka tak tahu, tak menyadari bahwa ada mata lain yang menyaksikan perterngkaran mereka. Para pelayan, Goblin rumah, lukisan-lukisan dan juga... Orca. sambil memegangi dadanya seakan memeras hatinya, menahannya agar tak hancur berkeping.
Orca, gadis kecil berumur 7 tahun yang cantik. Rambutnya blonda sehat bercahaya, terlihat bahwa ia terawat dengan sangat baik. Dunianya penuh warna, warna-warna yang indah khas anak-anak pada umumnya. Warna yang kini luntur sudah setelah melihat pertikaian kedua orang tuanya. Pertikaian yang diintipnya dari celah pintu kamar tidurnya.
"Crucio!!!" suara lantang khas pria dewasa kembali menggelegar. Diiringi jeritan si wanita. tak tahan dengan penyiksaan yang dilihat dan didengarnya, Orca terjongkok, menutup kedua belah telinganya. Hatinya tak henti-hentinya berteriak, "Hentikan! Hentikan!"
Ellena di antara hujan cruciatus yang diterimanya, perlahan memasukkan satu tangannya kedalam jubahnya, mencoba menggapai tongkat sihir miliknya. Ia sudah tak tahan menerima siksaan itu. Setelah berusaha menggapai, akhirnya ia dapat menggengam tongkat miliknya. Dan disaat ia menemukan jeda yang menjadi celah baginya ia pun merapalkan mantera, "Expelliarmus!"
Gordon terpental menabrak meja console dibelakangnya. Tongkat sihirnya terlempar cukup jauh dan jatuh di depan pintu satu kamar.
Masih berdiri terpaku, Ellena berbicara.
"Ya Gordon. Benar, saya bermain di belakangmu. Kenapa tanyamu?" Ucapnya lalu tertawa sesaat sebelum melanjutkan perkataannya. "Karena aku tak pernah mencintaimu, Gordon! Aku menikahimu karena kau punya harta, kuasa dan kasta yang tinggi. Tiga hal yang akan cukup menghindarkanku dari kejaran gerilyawan Pelahap Maut yang mengejarku. Gerombolan yang pernah menjadi teman-temanku." Ujarnya.
"Dan Orca. Dia hanyalah alat belaka! Agar semakin mengikat kau kepada diriku, kau pikir kau siapa Gordon? Heh?!! Kau seorang Gryfinddor! Seorang pengkhianat darah! Dan sebaliknya saya, saya adalah seorang yang superior! Saya seorang Slytherin! Saya berjuang demi darah murni, klan kita, Gordon!" lanjutnya kembali.
"Kini saya telah menemukan seseorang yang akan menjadi tumbalku yang baru, seorang yang jauh lebih kaya dan berkuasa daripada dirimu! Saya tak membutuhkan dirimu lagi, Gordon! Matilah!" Ujarnya.
Lalu Ellena mengangkat tongkat sihirnya, mengayunkannya dan "AVADA KEDAVRA!!!"
Sinar hijau bercahaya dan setelahnya tongkat sihir terjatuh dari genggaman. Suara ketukan friksi dari tongkat dan lantai marble menggema di ruangan itu. Ellena, dengan mata membelalak terjatuh ke lantai tak bernyawa. Lukisan-lukisan yang ada menutup matanya dengan kedua belah tangannya. Gordon terbagun dari posisinya, merapihkan dirinya dan melihat sosok yang bediri dibelakang tubuh kaku istrinya.
"Orca?" ujar Gordon penuh tanya. "Maafkan aku, Ayah. Maafkan aku...." mata Orca menatap sang ayah dengan pandangan nanar. Air matanya turun dengan derasnya. Tubuhnya bergetar hebat.
Malam itu seorang anak telah membunuh Ibunya sendiri. Tindakan yang dilakukannya demi menyelamatkan hidup sang Ayah. Tragedi yang akan merubah masa depan hidupnya kelak.
xxx
Introductory
Blog yang dibuat untuk side story dari character bernama Orca Hills yang akan didaftarkan di forum IndoHogwarts term depan.
Di blog ini, kalian dapat mengetahui bagaimana masa lalu Orca dan hal-hal yang mungkin tak dapat di sebutkan dengan panjang lebar di forum RPG IndoHogwarts nanti.
Simak terus blog ini. Semoga kalian menikmatinya.
xxx
Di blog ini, kalian dapat mengetahui bagaimana masa lalu Orca dan hal-hal yang mungkin tak dapat di sebutkan dengan panjang lebar di forum RPG IndoHogwarts nanti.
Simak terus blog ini. Semoga kalian menikmatinya.
xxx
Langganan:
Postingan (Atom)