Senin, 17 Agustus 2009

2 Tahun kemudian

Tangan-tangan mungil itu sedang asyik mengaduk pasir. Begitu terampilnya dimasukkannya pasir kedalam ember kecil dan dipadatkan sebelum dituangkan kembali pasir yang sudah terbentuk menjadi gumpalan. Deangan telaten tangan itu menggunakan sekop dan tangannya yang satu lagi membentuknya menjadi satu bagian dari istana pasir. Orca, gadis yang sedang asyik membuat istana pasirnya di lapangan bermain anak di dekat perumahannya. terjongkok sendiri seakan tak peduli dengan sekitarnya.

Lalu segerombolan anak lelaki nakal perlahan berjalan menuju dirinya. Segereombolan yang terdiri dari tujuh orang anak dengan pemimpinnya yang bermuka angkuh, bertubuh gembul dan memiliki ekspresi tak simpatik. Orca tak menyadari kalau ia sedang dalam bahaya, ia tetap asyik bermain di lapangan pasir.

"Hey kamu!" si gembul itu tiba-tiba berseru kepada Orca. "Pergi dari situ, itu tempat bermain kami!" lanjutnya lagi. Orca seakan tak mendengar terus saja merangkai istana pasirnya yang sudah hampir sempurna. Si gembul tentu saja merasa gusar karena diacuhkan, dan ia memerintahan dua orang anak yang menjadi pengikutnya untuk mengacaukan istana pasir yang telah susah payah dibuat oleh Orca.

Gerombolan anak itu tertawa seakan melihat penderitaan orang adalah sesuatu yang patutt ditertawakan. "Hey! Kenapa kalian hancurkan istana pasirku?!!" bentak Orca kesal. "Karena kau bermain di wilayah kami, nona kecil!" ujar si gembul kepadanya.

"Terus kenapa? Ini lapangan bermain untuk umum bukan milik keluargamu!" bentak Orca lagi. Orca sangat kesal sekali dengan perbuatan anak-anak lelaki nakal itu. Dan ia tak merasa takut ataupun segan sama sekali walau mereka terlihat lebih tua darinya. Begitu marahnya sampai-sampai ia tak menyadari bahwa ia melakukan hal yang ajaib, begitu marahnya sampai ia menggerakan ayunan dan jungkat jungkit yang kosong bergerak sendiri secara telekinetis.

Anak-anak lelaki nakal itu tiba-tiba saja merasa ciut melihat semua itu. Kaki mereka gemetar, lalu si gembul berbalik dan mendorong anak pengikutnya dengan kasar dan lari terbirit sambil berseru, "Orang Gila! Ada orang gila!!"

Setelah semuanya menghilang dari pandangan mata, Orca mengangkat kedua tangannya, dilihat dan ditelitinya dengan tatapan heran seakan tangannya adalah sesuatu yang tak pernah dilihatnya. Dan ia berlari pulang.

***

"Nenek, apakah aku orang gila" tanya Orca kepada sang nenek saat mereka duduk di ruang tamu sore harinya, hal yang membuat sang nenek hampir saja menyemburkan earl grey yang baru saja diteguknya.
"Orca sayang, mengapa kau berkata seperti itu?" tanya sang nenek bingung dengan pertanyaan ajaib sang cucu. "Siang tadi saat saya bermain di lapangan, ada segerombolan anak nakal yang menggangguku. beberapa dari mereka menghancurkan istana pasir yang kubuat dengan susah payah, dan saya mersa sangat kesal sekali. Lalu saya dapat menggerakkan beberapa mainan yang sedang kosong dan memmbuat anak nakal itu ketakutan, mereka memangil saya orang gila, Nek."

Sang nenek terpukau dengan ceritanya, lalu ia membenarkan posisi duduknya pun juga letak kaca matanya. Lalu ia berkata kepada Orca, "Dear, itu bukanlah hal yang patut disebut gila. Mereka hanya tak biasa melihat dengan hal seperti itu.... Orca, nenek harus memberitahumu sekarang karena kupikir kau sudah dapat berpikir cukup matang. Kita, keluarga Hills adalah keluarga penyihir. Dan bagi seorang penyihir, adalah hal yang lumrah jika sedang merasa kesal, takut ataupun sedih akan menunjukkan reaksi tertentu pada lingkungan sekitar." bilang sang nenek dengan suara yang menentramkan hati.

"Penyihir? Jadi kita seperti orang-orang di pertujukkan sulap dalam sirkus atau televisi ?" tanya Orca takjub. Sang nenek tentu saja tertawa atas pertanyaanya itu, "Tidak Orca, mereka pesulap bukan penyihir. Well, mungkin beberapa dari mereka tapi tak seluruhynya. Kebanyakan dari pesulap hanya menggunakan trik dan ilusi saja. Sementara penyihir seperti kita dapat menggunakan mantera sihir sesungguhnya untuk berbagai keperluan." bilang sang nenek.

"Kau tentu sering melihat pigura lukisan yang tergantung di rumah ini, lukisan yang dapat bergerak. Ataupun peralatan rumah tangga, seperti sapu yang dapat bergerak sendiri dan sebagainya bukan, Orca?" tanya sang nenek kepanya cucunya itu. Orca menganggukan kepalanya dengan yakin. "Itulah sihir, Orca. Mereka, para muggles tak punya peralatan seperti ini. Mereka harus menggunakan tenaga mereka sendiri untuk menyapu, membersihkan rumah, mencuci piring kotor dan sebagainya." ujar sang nenek lagi.

Orca merasa takjub dan bibir mungilnya membentuk huruf O kecil, ekspresinya sungguh cute. "Lalu, bagaimana saya dapat menggunakan sihir, Nek? Apakah kau dapat mengajariku?" tanya Orca lebih lanjut. "Well, tentu ada sekolah khusus penyihir yang dapat menggajarkan berbagai macam tentang sihir, ada beberapa sekolah sihir ternama di dunia ini. Seperti Hogwarts, Salem, Beauxbaton, Durmstrang..., dan neneka dapat mengajarimu bebrapa mantera ringan untuk perlindungan diri, tapi kau harus berjanji tidak menggunakannya di depan para muggles, janji?" tanya sang nenek. "Janji!" ujar Orca yakin.

Sudah dua tahun berselang sejak kejadian tergelap Orca, yang mungkin sudah tak pernah dapat diingatnya kembali sejak sang Ayah mengobliviate pikirannya. Hidup Orca berjalan cukup normal dengan berbagai kejadian sihir ringan yang membuat dirinya selalu takjub. Orca, kini seorang anak pra remaja berumur 9 tahun. Seorang anak gadis yang sedang tumbuh, wajahnya yang memiliki paras lembut, rambut brunettenya yang indah, sinar matanya yang bercahaya seakan menunjukan semangat hidupnya yang meletup-letup, membentuk dirinya perlahan menjadi seorang anak gadis pra-remaja yang cantik nan aktif. Seorang yang mewarisi keberanian sang ayah dan kecantikan serta ketajaman yang menghipnotis sang bunda.

xxx

Tidak ada komentar:

Posting Komentar