"Katakan dengan jujur siapa lelaki itu!!!" suara lantang kasar menggelegar, menggetarkan seluruh isi rumah. Membangunkan seluruh penghuni rumah itu di tengah malam buta.
Hujan masih terus saja turun, membasahi bumi seakan merasa malu mendengar pertikaian itu dan ingin menutupi suara keributan tersebut. Dan guntur seakan mendukungnya, menyalak bersahut-sahutan membuat siapapun yang mendengarnya menjadi ciut hati.
Wanita itu terduduk di lantai, terpekur, sungai air mata masih saja turn dari kedua matanya yang indah. lelehan air mata yang berwarna kehitaman karena melunturkan maskara yang digunakannya. Sang lelaki di depannya masih saja membentak tak tentu arah, sambil menggengam tongkat sihir miliknya. Suaminya yang menangkap basah dirinya bermain gila dibelakangnya.
"Katakan Ellena! Katakan siapa pria itu!!!" Bentak Gordon seakan ingin meyakinkan perkiraannya atau mungkin berharap pikirannya salah walaau ia sebnearnya apa yang sedang terjadi. Lalu ia mengangkat satu belah tangannya, "Katakan Ellena! Crucio!!!"
Ellena meringkuk, bergetar, berteriak kesakitan. Jeritannya sangat mengiris hati.
"Aaargh! Hentikan! Hentikan Gordon!!!" pinta si wanita. "Jangan biarkan amarah membutakan hatimu, Gordon! Demi Merlin, Hentikan!!!" Pintanya kembali.
"Kenapa Ellena? Kenapa kau tega melakukan ini padaku? Kenapa?!!!" balas sang pria tak kalah keras. "Apa yang kurang dariku? Apa?!" "Lihat mansion ini, apakah kurang mewah untukmu? Lihat pakaianmu, apakah kurang modis buatmu? Lihat sekkelilingmu Ellena, Lihat!!!" "Lihat diriku Ellena! apakah aku kurang mencintaimu? Apa aku kurang memuaskan hasratmu?" "Lihat kamar itu Ellena! Disana terbaring Orca, buah hati kita, hasil cinta kita. Begitu teganyakah kau melukai hatinya? Kenapa Ellena? Kenapa kau melakukan ini? Jelaskan padaku!" Ucap Gordon panjang, air mata mulai meleleh dari matanya.
Sementara Ellena masih terus saja tersenguk sunyi, menundukkan kepalanya, tak berani melayangkan pandangan kepada suaminya yang sedang murka.
Mereka tak tahu, tak menyadari bahwa ada mata lain yang menyaksikan perterngkaran mereka. Para pelayan, Goblin rumah, lukisan-lukisan dan juga... Orca. sambil memegangi dadanya seakan memeras hatinya, menahannya agar tak hancur berkeping.
Orca, gadis kecil berumur 7 tahun yang cantik. Rambutnya blonda sehat bercahaya, terlihat bahwa ia terawat dengan sangat baik. Dunianya penuh warna, warna-warna yang indah khas anak-anak pada umumnya. Warna yang kini luntur sudah setelah melihat pertikaian kedua orang tuanya. Pertikaian yang diintipnya dari celah pintu kamar tidurnya.
"Crucio!!!" suara lantang khas pria dewasa kembali menggelegar. Diiringi jeritan si wanita. tak tahan dengan penyiksaan yang dilihat dan didengarnya, Orca terjongkok, menutup kedua belah telinganya. Hatinya tak henti-hentinya berteriak, "Hentikan! Hentikan!"
Ellena di antara hujan cruciatus yang diterimanya, perlahan memasukkan satu tangannya kedalam jubahnya, mencoba menggapai tongkat sihir miliknya. Ia sudah tak tahan menerima siksaan itu. Setelah berusaha menggapai, akhirnya ia dapat menggengam tongkat miliknya. Dan disaat ia menemukan jeda yang menjadi celah baginya ia pun merapalkan mantera, "Expelliarmus!"
Gordon terpental menabrak meja console dibelakangnya. Tongkat sihirnya terlempar cukup jauh dan jatuh di depan pintu satu kamar.
Masih berdiri terpaku, Ellena berbicara.
"Ya Gordon. Benar, saya bermain di belakangmu. Kenapa tanyamu?" Ucapnya lalu tertawa sesaat sebelum melanjutkan perkataannya. "Karena aku tak pernah mencintaimu, Gordon! Aku menikahimu karena kau punya harta, kuasa dan kasta yang tinggi. Tiga hal yang akan cukup menghindarkanku dari kejaran gerilyawan Pelahap Maut yang mengejarku. Gerombolan yang pernah menjadi teman-temanku." Ujarnya.
"Dan Orca. Dia hanyalah alat belaka! Agar semakin mengikat kau kepada diriku, kau pikir kau siapa Gordon? Heh?!! Kau seorang Gryfinddor! Seorang pengkhianat darah! Dan sebaliknya saya, saya adalah seorang yang superior! Saya seorang Slytherin! Saya berjuang demi darah murni, klan kita, Gordon!" lanjutnya kembali.
"Kini saya telah menemukan seseorang yang akan menjadi tumbalku yang baru, seorang yang jauh lebih kaya dan berkuasa daripada dirimu! Saya tak membutuhkan dirimu lagi, Gordon! Matilah!" Ujarnya.
Lalu Ellena mengangkat tongkat sihirnya, mengayunkannya dan "AVADA KEDAVRA!!!"
Sinar hijau bercahaya dan setelahnya tongkat sihir terjatuh dari genggaman. Suara ketukan friksi dari tongkat dan lantai marble menggema di ruangan itu. Ellena, dengan mata membelalak terjatuh ke lantai tak bernyawa. Lukisan-lukisan yang ada menutup matanya dengan kedua belah tangannya. Gordon terbagun dari posisinya, merapihkan dirinya dan melihat sosok yang bediri dibelakang tubuh kaku istrinya.
"Orca?" ujar Gordon penuh tanya. "Maafkan aku, Ayah. Maafkan aku...." mata Orca menatap sang ayah dengan pandangan nanar. Air matanya turun dengan derasnya. Tubuhnya bergetar hebat.
Malam itu seorang anak telah membunuh Ibunya sendiri. Tindakan yang dilakukannya demi menyelamatkan hidup sang Ayah. Tragedi yang akan merubah masa depan hidupnya kelak.
xxx
Tidak ada komentar:
Posting Komentar